Hari Terakhir Penyisihan Grup (Part II)

Di dalam ruangan yang sepi dengan ditemani sekitar lima makhluk paling sempurna di muka bumi ini (red: manusia), laptop beserta perlengkapan2 utama disiapkan di atas meja dengan tujuan utama untuk melanjutkan proyek kerja praktek (setelah membuka livescore.com untuk mengetahui hasil Copa America 2011). Walaupun laptop ini sudah berumur (sekitar 5tahunan lah), namun waktu yang dibutuhkan dari mulai menyalakan hingga membuka web tersebut sangatlah cepat. Entah itu karena laptopnya yang awet, sistem operasinya yang Microsoft Windows Ubuntu Linux, atau laptopnya yang pengertian atas keinginan menggebu-gebu dari Debu :p. Yang pasti web pertama yang kubuka saat itu adalah livescore.com. Begitu kulihat hasilnya, pertama “terkejut”, dan kedua “biasalah ya”.

FT    Paraguay [3 – 3] Venezuela
6′    [0 – 1]        S. Rondon
34′    [1 – 1]    A. Alcaraz
64′    [2 – 1]    L. Barrios
86′    [3 – 1]    C. Riveros
90′    [3 – 2]        Miku
90′    [3 – 3]        G. Perozo

Untuk pertandingan ini, Debu membayangkan pertandingan berjalan dengan sangat seru dan menarik. Pertama, secara kasat mata terlihat skor akhir begitu ‘menggiurkan’, tercipta 6 gol di pertandingan tersebut. Apalagi jika kita melihat tren awal dari kompetisi ini yang begitu membosankan (red: tercipta sedikit gol). Banyak yang memprediksi kompetisi yang melibatkan negeri-negeri Amerika Latin ini bakalan memberikan tontonan permainan yang terbuka, menyerang, dan alhasil melibatkan terciptanya banyak gol. Berbeda dengan Eropa yang berkarakter taktikal, memiliki level disiplin yang tinggi, bermental juara, dan memiliki fisik yang prima dan kuat. Amerika Latin lebih mengandalkan kelebihannya dari segi teknis permainan dan skill individu. Namun, di awal kompetisi, lebih terlihat kedua tim bermain lebih tertutup dan lebih bersifat pragmatis. Cukuplah, premis-premis tersebut mengkonklusikan sedikitnya gol yang tercipta di setiap pertandingannya. Yah, kalau melihat tren sepakbola akhir-akhir ini dan menganalisis dari kompetisi piala dunia tahun 2010 yang juga minim gol, tak terlalu mengejutkan bila kompetisi ini hanya menghasilkan sedikit gol. Namun, Debu sempat berprediksi bahwa skor-skor “kacamata” (0-0) dan “biner” (1-0 dan 1-1) hanya berlangsung di awal kompetisi saja. Di pertengahan hingga akhir nanti, Debu menganalisis, pertandingan akan berlangsung lebih terbuka dan menarik, sesuai dengan karakter sepakbola Amerika Latin. Kita lihat saja ^^

Kedua, Debu melihat kedua gol yang tercipta di akhir pertandingan. Dua buah gol yang terjadi di menit yang sama (’90), oleh tim yang sama (Venezuela), yang membuat pertandingan menjadi berbeda (dari 3-1 untuk keunggulan Paraguay menjadi 3-3 untuk hasil seri kedua belah tim). Entah itu karena Paraguay yang kehilangan konsentrasi atau karena Venezuela yang bermental juara dan memiliki determinasi tinggi. Namun, yang pasti mengejar ketertinggalan dua gol di akhir pertandingan bukanlah hal yang mudah. Apalagi dilakukan oleh sebuah negara yang inferior dibandingkan oleh lawannya. Negara yang sejak awal populernya sepakbola di benua ini hingga awal tahun 2000-an selalu di-“buli-buli” oleh para kompatriotnya dari benua yang sama. Tak pernah sekalipun, baik dalam penyisihan Piala Dunia di Zona Amerika Latin ataupun kompetisi Copa America, Venezuela menempati posisi bukan juru kunci. Ya, negeri yang lebih terkenal dengan presidennya yang eksentrik (Hugo Chavez) dan kekayaan barang tambangnya ini, kali ini mengguncang peta kekuatan sepakbola Amerika Latin. Bahkan di babak penyisihan grup, Venezuela mampu menempatkan dirinya di posisi runner-up. Memiliki poin yang sama dengan Brazil di posisi puncak. Hanya kalah selisih gol.

Kebangkitan Venezuela inilah yang sepatutnya dicontoh oleh federasi sepakbola negeri ini dan dijadikan teladan untuk memajukan sepakbolanya. Mungkin kita tak akan pernah bisa menjadi Brazil, Argentina, atau Uruguay. Ketiga juara dunia dari benua Amerika Latin ini tidak mengenal kata ‘bangkit’ karena sepakbola mereka selalu di atas. Mereka jarang sekali di-“buli-buli” oleh para rival mereka di benua Amerika Latin. Mereka tidak pernah merasakan pahitnya menempati posisi juru kunci di benua mereka. Rasa-rasanya kurang tepat jika negeri ini mencontoh ketiga juara dunia tersebut demi memajukan sepakbola. Debu lebih condong untuk memilih Venezuela sebagai blueprint kebangkitan timnas Indonesia, karena menurut Debu, negeri ini merupakan negeri yang paling pesat kemajuan sepakbolanya di satu dekade terakhir ini. Lihat saja semangat pantang menyerah yang diperlihatkan oleh negeri yang belum pernah tampil di Piala Dunia ini. Dua gol di menit terakhir untuk mengejar hasil seri atas perempatfinalis Piala Dunia edisi terakhir. Luar biasa. Kepada PSSI, untuk tim SAD berikutnya, saya sarankan untuk dikirim saja ke negerinya Hugo Chavez ini, untuk belajar sepakbola. Lebih murah dan lebih memberikan hasil positif. Hehehe.

(…to be continued)

Advertisements

1 thought on “Hari Terakhir Penyisihan Grup (Part II)

  1. Pingback: Hari Terakhir Penyisihan Grup (Part I) | Haris Amrullah Lubis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s